OPINI  

Hiasi Ilmu Dengan Amal Shalih

Ngaji puasanan bulan Ramadhan tahun 1446 H. Di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes setiap sore hari, pukul 16.00 -17.30 Wib, di tutup (hataman) pada hari Rabu 26 Ramadhan 1446 H. bertepatan pula dengan tanggal 26 Maret 2025.

Sebelum acara penutupan dengan pembacaan tahlil dan salaman bagi seluruh peserta ngaji laki-laki dengan KH. Subhan Ma’mun, masih sempat diisi pula pembaca kitab kifayatul atqiya dan Ihya ulumuddin, sebagai kitab yang menjadi kajian ngaji puasanan setiap sore hari.

Dingaji terakhir di bulan Ramadhan 1446 H. banyak nasehat yang didapatkanya, diataranya KH. Subhan Ma’mun berpesan kepada jamaah untuk mengisi ilmu yang didapat dengan berbuat (amalan) yang baik. Artinya janganlah ilmu yang dimiliki oleh seseorang, sedangkan ia masih sering berbuat dosa. Hal ini akan berdampak pada redupnya cahaya yang akan dimiliki di akhirat nanti.

Seseorang dalam mencari ilmu sebaiknya dimulai dari mencintai ilmu itu sendiri, mempersiapkan kemampuan intelektual, sosial dan komunikasi sebagai modal untuk memahami dan mengamalkan ilmu yang nanti didapatkannya.

Dari ilmu yang didapat dan akhlak yang diperlihatkan inilah yang akan membedakan kemulyaan seseorang dibandingkan dengan yang lain. Selanjutnya dari memaksimalkan akal yang digunakan untuk belajar dan beramal shalih, ia akan dapat merasakan nikmat dan manfaat ilmunya.

Ada salah satu perilaku yang umumnya melekat pada seseorang yang
semangat mencari ilmu, ia akan melihat dan menggapai urusan dunia diperkecil, lebih senang bergelut pada ilmu pengetahuan dan menyisihkan kegiatan yang lain. Sehingga kebahagaian yang diraihpun akan beda, antara para pecinta ilmu dan profesi lainnya.

Dalam hal apapun, jadilah orang yang setiap melangkah (mengambil keputusan) sebisa mungkin mengetahui ilmunya, jangan sampai hanya sebatas mampu berbuat amal shalih dan ibadah yang baik saja, namun tanpa didasari ilmu. Hal ini dilakukan agar dalam beramal tidak tersesat. Seperti seseorang mau berangkat haji, maka ia harus belajar cara menjalankan ibadah haji (manasik) supaya memahami akan syarat dan rukunya sehingga hajinya sempurna.

Tidak dapat dipungkiri, dalam mencari ilmu diperlukan adanya sosok guru atau ulama, yang secara tidak langsung bertugas untuk selalu membimbing perilaku yang baik dalam menjalani kehidupan. Sosok ulama yang tidak hanya berpungsi sebagai proses memindahkan ilmu yang dimiliki kepada murid, tetapi kehadiran guru yang mampu menuntun jalan kebenaran, menapaki jalan warna-warni kehidupan keseharian bagi pencari ilmu (santri atau pelajar).

Bila ada pencari ilmu yang secara kecerdasannya dapat dikatagorikan dibawah rata-rata seusianya, namun ia tetap memilih selalu berkumpul dengan para ilmuan ataupun ulama, maka ia akan mendapatkan minimal ketempelan (ikut tradisi) dari para ulama yang diikutinya. Walaupun ulama tersebut telah terlebih dahulu menghadap Allah Swt.

Tidak ketinggalan pula bagi orang tua, menjadi sebuah keharusan untuk berusaha memiliki keturunan yang berjuang ada dijalan agama dan dekat dengan para ulama, kalau tidak mampu menjadikan semua anaknya bergerak dalam dunia dakwa islam mengajak keimanan kepada Allah Swt.

Perlu diingatkan kembali, bila mengajak seseorang mencari ilmu, maka harus diingatkan akan niat yang baik. Karena dalam setiap hati manusia ada keinginan untuk belajar namun kadang kalah dengan keinginan lain yang lebih menggiurkan di depan mata saat itu.

Dengan adanya kekuatan niat yang baik, maka dengan sendirinya lahirlah usaha memahami ilmu yang didapat dan akan menghasilkan perilaku ikhlas. Kalaupun belum bisa memahami secara maksimal ilmu yang dipelajari menimal ada proses pembelajaran ikhlas yang ditanamnya dan adanya rambu-rambu kehidupan yang dijalaninya. Rambu-rambu halal dan haram cukup jelas yang akan menjadi petunjuk arah jalan kehidupan.

Ikhlas akan membuat kesucian hati dan berpikir jernih, memanfaatkan potensi yang ada untuk kebaikan. Oleh karena itu, selagi mampu belajar maka jangan menunda-nunda sebelum datangnya usia tua dan hilangnya kesempatan. Begitu juga ketika kaya gunakan harta di jalan Allah Swt sebelum harta hilang (menjadi miskin) atau diambil oleh Sang pemilik-Nya Allah Swt.

Nafsu yang ada pada manusia satu sisi berpungsi membujuk untuk mencintai dunia berlebih-lebihan dan mengajak melupakan akhirat yang lebih baik dan kekal didalamnya. Dunia yang hancur dan hilang mati-matian diperjuangkan untuk mendapatkannya. Sebagaimana seseorang berjalan dipadang pasir, sepertinya melihat air, padahal itu hanya fatamorgana, ia akan semangat sekali untuk mengejar dan meraih air yang terlihat dimatanya padahal sesungguhnya tidak ada air. Sebuah usaha yang sia-sia dan hanya menghasilkan lelah semata.
Namun bila tidak ada nafsu maka tidak muncul semangat pula.

Ada kisah Ba’lam bin Ba’ura seorang cendekiawan dan ulama yang hidup pada masa Nabi Musa As. Ia dikenal karena kedalaman ilmu dan ketaatannya kepada Allah Swt. Namun di era keemasanya ia telah disesatkan oleh setan dan kroni-kroninya fir’aun sehingga meninggal dalam keadaan bermusuhan dengan Mabi Musa As.

Setan berhasil menyesatkan Ba’lam, dari segi pemikirannya agar tidak mengarahkan kepada kebahagiaan akhirat, tidak mengambil petunjuk dari ayat-ayat Allah Swt, dan tidak berusaha mencapai kesempurnaan taat kepada-Nya.

Kesesatan Ba’lam ini tidak bisa lepas dari bujuk rayu penguasa Firaun saat itu, yang selalu datang kepadanya, sehingga yang awalnya menjadi teman Nabi Musa As menjadi musuhnya. Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk selalu berhati-hati dalam memilih pertemanan dan bujuk rayu kekuasaan yang akan membuat terlena akan pasilitas yang didapatkannya.

Selanjutnya berhati-hatilah dalam menegur orang yang salah ucap atau mengingatkan kesalahan seseorang tidak pada tempatnya, dikarenakan akan diartikan berbeda antara tujuan menasehati dan mempermalukan didepan umum. Kalau sekiranya akan ada resiko yang berat atau tidak mengandung kesalahan yang patal (sangat membahayakan) dan nasehat yang akan diberikan tidak ada akan perubahan (memperbaiki atau membetulkan) bagi orang yang bersalah,
walaupun hal ini dilakukan demi kebaikan, maka sebaiknya diam (sukut).

Kadang bicara yang keras atau membetulkan kesalahkan seseorang didepan khalayak umum (orang banyak). Dalam hal ini sebagai usaha untuk menutupi aibnya (ketidaktahuan) dari orang bodoh yang bicaranya kadang salah. Bagi orang yang alim (lebih mengetahui) janganlah banyak mengomtari atau menyalahkan orang tersebut. Hal ini dapat menghiasi diri dari perilaku orang alim atau menjaga fitnah dari keduanya.

Kalau seseorang merasa dirinya tidak masuk katogori orang pandai maupun kaya, maka lakukanlah dengan mengambil pilihan membiasakan diri dengan sholat malam, sebagai usaha untuk mengembalikan berkahnya ibadah agar masuk kehati, sehingga hati bisa memancarkan cahaya (petunjuk kehidupan) dan menjadikan ilmu yang sedikit diperoleh dapat bermanfaat. Minimal ucapannya masih didengarkan oleh orang lain maupun tetangga.

Jangan kotori ilmu dengan berbuat dosa, dikhawatirkan ketika seorang ulama seharusnya berjalan di akhirat dengan cahaya ilmunya akan mengalami kegelapan karena pamer kepopuleran ilmu yang dimilikinya. Ingat bila manusia diberi kesempatan untuk belajar (mencari ilmu) seribu tahunpun, ia tentu tidak akan mendapatkan semua, apalagi yang hanya belajar beberapa tahun saja.

Berkumpul dengan orang-orang yang alim (baik), sebagai usaha agar selamat dari fitnah dunia dan minimal terjaga keimanannya. Mudah-mudahan kita di dunia dan kelak di akhurat dikumpulkan dan dapat berjalan bersama dengan para guru (ulama) yang memiliki cahaya ilmu. Aamiiin.

Lukmanrandusanga, rabu 26 Ramadhan 1446 H. bertepatan tanggal 26 Maret 2025.

Sedikit tambahan…

Dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati ijinkan saya *Lukman Randusanga dan Keluarga”* mengucapkan:

*”Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1446 H”*

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ,
كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ.

Saya banyak kesalahan oleh karena itu *Mohon maaf lahir bathin atas segala kekhilafan dan kesalahan saya* 🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contoh Menu Header Tetap